Adab Dengan Ahlu Bait Keluarga Baginda




ADAB KEPADA HABAIB / KELUARGA RASULULLAH SAW

Dikutip dari kitab Rosyfatus Shoodi Min Bahri Fadloili Banin Nabi Al-Hadi, hal. 263, karya Sayyid Abu Bakar Syihabuddin al Alawy al Hadhromi, bahwa seorang Wali Quthub Syekh Abdul Wahhab As Sya’roni berkata,

“Di antara anugerah yang Allah berikan kepadaku adalah besarnya ta’dzimku terhadap para Asyraf (Habaib) walaupun ada orang yang meragukan nasabnya dan walaupun mereka tidak berada di jalan lurus seperti datuk-datuknya, karena ta’addub/beradab sopan santun kepada Rasulullah Shollallahu alaihi wa sallam. Dan bagiku, Habaib yang paling rendah kedudukannya tetap aku agungkan dan muliakan, hal ini termasuk akhlak yang sangat langka yang sedikit sekali orang mengamalkannya.”

“Dan di antara anugerah yang Allah berikan kepadaku yaitu aku mampu membedakan mana suara Habaib dan mana yang bukan suara Habaib dari balik tembok/hijab, fungsinya adalah agar aku bisa bergegas memuliakan mereka saat aku mendengar suara mereka dari balik dinding.”

“Di antara anugerahNya lagi kepadaku adalah aku tidak mendoakan jelek kepada Habib yang menganiaya aku atau yang menyakitiku sebab dosaku, karena Habib adalah bagian dari Rasulullah Shollallahu alaihi wa sallam”

“Kami dibai’at agar kami tidak merasa lebih baik daripada Syarif/Habib walaupun Habibnya tidak begitu alim dan ini termasuk adab kami apalagi bila habibnya alim maka kita tidak boleh merasa lebih baik dalam segi ilmu, amal dan akhlak. Dan kami tidak boleh membaiat (thoriqat) karena hal tersebut sama halnya menjadikan Habib tersebut berada di dalam aturan kami dan menjadi pelayan kami.”

“Ketahuilah di antara ta’dzim kita terhadap Asyraf/Habaib adalah kita tidak boleh menikahi wanita yang di talaknya, begitu juga kita tidak boleh mencegah sesuatu yang mereka minta dari kita walaupun mereka minta surban yang kita pakai, dan kita tidak boleh memandang para Syarifah kecuali ada udzur syar’i”

“Guruku Sayyid Ali Al Khowwash (seorang Arif billah tidak bisa baca dan tulis namun mempunyai ilmu ladunni) berkata, ‘Andaikan ada Habib yang masuk ke rumah keluargaku tanpa seizinku maka aku tidak merasa kecewa karena Habib termasuk Bidh’ah (potongan daging) dari Rasulullah sehingga seluruh badannya menjadi mulia karena Bidh’ah tersebut. Beliau juga berkata, ‘Tak layak seorang muslim melihat Syarifah baik melihat cadarnya, pakaiannya dan sandal/sepatunya.”

“Sesungguhnya orang yang membiarkan lisannya (untuk menghujat) keturunan Rasulullah maka dia tidak akan mati kecuali mati dalam keadaan murtad jika dia tidak segera taubat dan menyesali perbuatannya serta tak mengulangi nya lagi. Dan sungguh banyak bukti dari orang-orang yang diuji dengan menghujat Dzurriyah Nabi dalam waktu yang tidak lama mereka Allah segerakan siksaan dengan berbagai macam musibah.”

“Ibnu Muflih dalam kitabnya Al Adab As Syar’iyyah menuturkan, “Suatu ketika Imam Ahmad secara kebetulan bersamaan dengan anak kecil dari keturunan Bani Hasyim di pintu masjid yang sama-sama ingin keluar, namun anak kecil itu berhenti dan mempersilahkan agar Imam Ahmad keluar terlebih dahulu, melihat hal demikian maka beliau menahan diri untuk keluar dan mengambil tangan anak kecil dari Bani Hasyim tadi lalu beliau mencium tangan anak kecil itu dan berdiam diri sampai anak kecil tadi keluar duluan. Kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya anak kecil tadi termasuk Ahlul Bait Nabi yang Allah wajibkan kepada kita untuk memuliakannya.”

“Sayyid Ibrahim Al Matbuli tatkala ada seorang habib datang dan duduk di sandingnya maka beliau nampak merunduk dan khusyuk di dekatnya dan berkata, ‘Sesungguhnya dia termasuk bagian dari Rasulullah Shollallahu alaihi wa Sallam, siapa yang menyakiti Habib maka sungguh dia telah menyakiti Rasulullah.”

“Syaikhul Akbar Ibnu Arobi dalam kitabnya Futuhatul Makkiyyah bab 29 mengomentari ayat penyucian Surat Al Ahzab ayat 33 : Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian wahai Ahlulbait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya, maka para Habaib termasuk anak-anak Siti Fathimah kesemuanya hingga hari kiamat ada dalam lingkup ketentuan ayat ini yaitu mereka mendapatkan ampunan dosa-dosa mereka dari Allah.”

“Dan hukum tersebut tidak akan nampak bagi Ahlul Bait kecuali nanti di akhirat karena mereka nanti di makhsyar akan diampuni, maka tidak semestinya bagi muslim menghujat mereka dan sungguh Allah telah menyucikan mereka sebagaimana dalam ayat penyucian (surat al Ahzab ayat 33). Itulah anugerah yang Allah berikan kepada orang yang dikehendakiNya.”

“Ibnu Hajar Al Haitami dalam fatwanya, ‘lebih mulia mana Habib yang tak berilmu atau orang (yang bukan habib) yang berilmu dan berwawasan luas? dan jika keduanya berkumpul mana yang harus didahulukan dan yang berhak dimuliakan? dan jika aku menghidangkan kopi, mana yang harus aku dahulukan? Maka beliau menjawab, ‘kedua-duanya mempunyai kemuliaan, adapun Habib, maka dalam tubuhnya terdapat Bidh’ah (sepotong darah daging Rasulullah) yang mulia yang mana Bidh’ah tersebut tak bisa dibandingkan dengan sesuatu apapun.”

“Dan tidak samar lagi bahwa menghukumi permasalahan yang ada di antara keturunan Rasulullah dan para Sahabatnya (dalam perang Jamal) itu tidak bisa diputuskan kecuali hanya Rasulullah yang berhak memutuskan nanti di hari kiamat. Adapun kita, hanyalah sebagai pelayan/ budak untuk mereka, oleh karena itu seorang budak tak layak menghukumi terhadap majikannya,”

“Al Arif billah Syaikh bin Abdullah Al Aidarus berkata, ‘Ketahuilah bahwa mencintai mereka Ahlul Bait dapat menyampaikan pada derajat yang tinggi di sisi Allah dan mendapat kedekatan dengan Rasulullah Shollallahu Alaihi wa Sallam.”

“Dalam Al Bidayah karya Ibnu Katsir disebutkan Imam Musa Al Kadzim pernah ditanya, ‘bagaimana kalian bisa mengatakan kami adalah keturunan/cucu Rasulullah ? Sedangkn kalian adalah cucu Ali bin Abi Tholib dan seharusnya seorang lelaki itu nasabnya disambungkan kepada kakeknya bukan kepada neneknya?’ Maka Beliau membacakan Surat Al An’am ayat 84 – 85 yang artinya : Dan Kami jadikan keturunan Nuh sebagai Nabi, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun (Itu adalah keturunan yang baik dari Ibrahim)…. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Dan Nabi Isa tidak punya ayah namun nasabnya disambungkan kepada cucu/keturunan para Nabi dari jalur ibunya (Sayyidah Maryam) begitu juga dengan kami nasabnya disamakan dengan keturunan Rasulullah dari jalur nenekku (Sayyidah Fathimah binti Rasulullah)”

Dalam Kitab Tadzkirah Al-Auliya disebutkan, saat Imam Syafi’i duduk di suatu Majelis Ilmu, Beliau berdiri dan duduk kembali, berdiri dan duduk kembali, sampai lebih dari 10 kali dan saat ada yang bertanya, beliau berkata, ‘Saat itu ada anak kecil dari Bani Alawy sedang bermain dengan anak-anak sebayanya… setiap anak kecil itu melewati pintu Majelisnya, Imam Syafi’i berdiri untuknya… karena menghormati dan mengagungkannya..

Dikisahkan suatu ketika tongkat yang dimiliki Al Imam Ja’far As-Shodiq RA telah usang dan lepuh, maka Al Imam Abu Hanifah RA ingin mengganti tongkat tersebut dengan tongkat yang baru dan lebih bagus. Namun Al Imam Ja’far mengatakan, “Tak tahukah engkau ini tongkat siapa? Al Imam Abu Hanifah berkata, ‘Tidak’. Maka beliau pun menjawab bahwa tongkat usang itu adalah milik Baginda Rasulillah SAW. Maka dengan spontan Al Imam Abu Hanifah pun terkejut dan langsung menciumi tongkat itu untuk mengambil berkah darinya. Akan tetapi Al Imam Ja’far melihatnya dengan biasa dan tersenyum sembari mengatakan, “Itu hanya kayu biasa. Berbeda dengan diriku yang mana di dalam jasad ini terdapat darah Baginda Sayyiduna Muhammad SAW.” Akhirnya beliau pun juga diciumi seluruh tubuhnya, karena barokahnya lebih besar dan lebih dekat hubungannya kepada Nabi dari pada tongkat tersebut.

Berkata Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad sohiburrotib,
“Kalian harus mencintai dan menghormati para Ahlul bait Rasulullah ï·º. Setiap kali seseorang melakukan hal ini secara terbuka dan benar, Allah akan mengangkat dan memuliakan kalian ke titik di mana ia mungkin tampaknya menjadi salah satu dari anggota ahlul bait itu sendiri. Setiap orang akan bersama dengan yang mereka cintai. Cinta dan penghormatan itu bukan untuk mereka secara pribadi, melainkan itu adalah untuk Allah dan Rasul-Nya ï·º”.

Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa sohbihi wa sallim


 

Admin

Catat Ulasan

Terbaru Lebih lama